[Orific] The Dreamer of black and white chp 2

Chapter 2 “First step”

Aku meninggalkan rumahku dan berjalan ke arah sekolah aku tinggal sendiri di kawasan ini, ayahku bekerja di luar negeri dan ibuku memiliki tubuh yang lemah jadi dia tinggal bersama keluarganya aku memilih tinggal sendiri karena rumahku yang sekarang dekat dengan sekolah hanya saja terkadang rasa kesendirian sulit untuk disingkirkan,

“Heey~ Koyuki~ selamat pagi!!” suara seseorang memanggilku dari belakang aku terlonjak dan sambil menghela nafas aku berbalik

seorang anak perempuan mengenakan seragam sekolah dan kalung salib menyapaku dengan riang rambutnya yang pendek dan berwarna kemerahan tertiup angin dengan senyum di wajahnya ia menghampiriku

“naya-chi  tumben kau tidak datang 5 menit sebelum upacara pembukaan??” aku menanyainya dengan penasaran karena Nanatsu Sayaka yang biasa kupanggil dengan panggilan naya-chi ini selalu datang 5 menit sebelum kesabaran habis

“tentu saja karena mulai hari ini sekolah kita jadi sekolah campuran kan?? aah~ aku tidak tahan ingin melihat wajah murid cowok yang masuk!!” aku terdiam mendengar jawabannya. aku baru saja ingat bahwa Tohouku private girls academy  mulai hari in akan menjadi sekolah campuran.

kami tiba di gerbang sekolah tanpa kendala apapun aku pun melihat jam di tengah taman sekolah “jam 06.47 masih banyak waktu sebelum upacara pembukaan” kataku dalam hati

“AH! disana kau rupanya aku mencarimu dari tadi!!” terlonjak untuk ke 2 kalinya hari ini aku berbalik dan mendapati teman ku yang lain berlari ke arahku rambutnya yang diikat di belakang menyeruak seperti buah nanas berwarna kecoklatan tetap lurus walaupun di tiup angin, “pagi !!” sapanya sambil meloncat mengarahkan kepalanya ke arah perutku denngan tangan yang yang di arah kan ke pinggulku. akupun menyiapkan diri akan hantaman, yang untungnya tidak terjadi.

“ne.. ne.. jangan jadi pemangsa di pagi hari ya Yuri-Onna(wanita lesbian)” sepasang tangan menghentikan terjangan, Yukiko Sakai satu dari sedikit teman yang kupunya, sikapnya yang over familiar dengan orang lain memang membuatnya memiliki banyak teman

“Yu-.. Yu–., YURI-ONNA?? ok! kau yang meminta nona sok suci !!” Yukiko langsung melayangkan tinjunya ke Sayaka namun ditangkap “huh!! kau masih terlalu cepat kalau mau mencari pertengkaran denganku cewek  mata duitan!!” aku mulai panik karena mereka mulai serius melayangakn tendangan dan tinjuan satu sama lain “eeh- eeh.. to- tolong hentika..” suaraku yang mengecil saat berusaha menghentikan mereka sementara orang-orang mulai berkumpul

“wah-wah.. kudengar para cewek disini adalah para “lady” yang anggun dan sopan ternyata hanya satu yang sesuai..” suara laki-laki yang terdengar itu membuat semua yang ada menolehkan kepala ke asalnya

seorang pemuda yang menandakan bahwa tohouku academy benar jadi campuran, berdiri di luar lingkaran rambutnya pirang mengenakan jaket diatas seragam sekolahnya berjalan ke arahku matanya yang hijau membuatku serasa di padang rumput.

“ada lagi yang bisa dibantu selain menghentikan pertengkaran temanmu dengan kedatanganku nona?” dia bertanya langsung kepadaku yang membuat mukaku serasa terbakar dan muka para gadis di sekitar tersipu-sipu  “uum.. tidak..  tidak ada terima kasih!” kataku  sambil tersenyum. aku merasa tidak nyaman menjadi pusat perhatian karena cowok itu.

“kalau begitu bisakah kau membantuku? bisa tunjukkan ke arah mana gedung serbaguna? ” tanya pemuda itu padaku. aku langsung lega karena tau cowok itu hanya tersesat dan aku juga tidak suka berhutang budi kepada orang lain “tentu saja ayo kuantar!!” yang membuat pria itu sukses mendapat tatapan penuh kecurigaan dari naya-chi dan Yukiko pada dasarnya mereka memang overprotektif padaku. waktu aku mendahului merka bersama cowok itu ke gedung serbaguna

“perkenalkan namaku Valkruel Van Krust anak pindahan” dia  mengulurkan tanganya kepadaku  “Koyuki Yumechirū Le Valliere kelas 1-b dulunya.. uum maaf kalau namaku panjang ” “dulunya? memangnya kelas yang baru belum diumumkan?” dia bertanya ” itu semacam tradisi di sekolah ini bahwa kelas baru diumumkan setelah upacara pembukan jam setengah delapan”  aku menjelaskan kepadanya “ooh brarti itu sekitar 4 menit lagi?” dia kembali bertanya “eh?” akupun melihat jam yang menunjukkan pukul 07:26 “astaga!! ayo kita harus cepat-cepat!!” akupun menarik tanganya dan membawanya ke ruang serbaguna anak itu diam saja dengan wajah tersenyum ketika kutarik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s